Bicara tentang wisata sejarah, aku memang sangat suka dengan wisata sejarah. Mengapa? menurutku salah satu wisata yang bisa memperluas ilmu adalah dengan mengagumi segala peninggalan peradaban dahulu kala.

Betapa pintarnya nenek moyang kita dalam merancang sebuah struktur bangunan hanya dengan bahan baku dan alat seadanya. Bukan hanya itu, sebagian besar artefak yang ditemukan dalam kondisi yang cukup utuh, meskipun ada beberapa bagian yang sudah rusak karena dimakan usia. Aku hanya bisa takjub jika meruntut itu semua secara logis.

Hal itu merupakan hal yang begitu luar biasa menurutku, terutama jika dibandingkan dengan zaman sekarang. Membangun sebuah rumah saja membutuhkan pertimbangan bahan dan biaya terperinci agar lebih maksimal. Dan hasilnya pun, kadang tidak sekuat dan seawet artefak peninggalan zaman dulu.

Peninggalan bangunan sejarah yang unik

Teringat saat 3 bulan lalu, seketika saja aku mengajak temanku untuk mengunjungi salah satu candi yang berada di daerah Berbah, Sleman, Yogyakarta. Entah kenapa setelah melihat info dari media sosial tentang Candi Abang, sebuah candi peninggalan zaman Hindu yang terletak diatas bukit menyerupai bukit telettubies yang hijau. Seketika aku ingin melihat secara langsung kondisi disana (mungkin ini yang dinamakan the power of media social, hehehe).

Memang sangat berbeda ketika aku melihat Candi ini di media sosial, untuk zaman sekarang kebanyakan tempat yang mulai viral adalah tempat yang sering dikunjungi para traveler, termasuk Candi Abang ini. Dan pada saat itu banyak foto di Instagram yang menyita perhatian karena Candi ini berada di atas bukit nan hijau.

Jam menunjukkan pukul 15:00, tanpa pikir panjang, aku dan temanku langsung menuju Candi Abang yang mungin berjarak sekitar 15-10 Km dari pusat kota Jogja.Candi Abang secara administratif terletak di Dusun Sentonorejo, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.

Aku sampai di Candi Abang sekitar jam 16:00, disana terdapat parkir yang dikelola oleh warga setempat, lebih tepatnya sih tempat penitipan motor. Karena akses menuju Candi ini dilalui dengan mendaki bukit kecil terlebih dahulu sekitar 15 menit. terdapat tangga untuk menaiki bukit yang terbuat dai batu gamping.

Tangga batu gamping
Tangga menuju bukit

Sesampainya di atas bukit, aku melihat ada hal unik yang dimiliki oleh candi ini, yaitu candi yang tersusun dari bahan bata merah, secara fakta bahwa candi yang berada di Jawa Tengah dan Jogja tersusun dari batuan andesit. Akan tetapi Candi ini tersusun dari batu bata merah, sehingga disebut “Abang” yang berarti merah dalam bahasa Jawa.

Candi ini terletak di atas bukit. Secara ilmu sejarah dan kepercayaan agama Hindu diketahui bahwa tempat tinggi itu adalah tempat yang suci dan dihuni oleh para Dewa. Sehingga mungkin pada zamannya, candi ini dipergunakan untuk tempat ibadah oleh peradaban masyarakat pada zaman itu.

Pemandangan yang Indah dari atas Candi Abang
Pemandangan yang Indah dari atas Candi Abang

Reruntuhan batu bata merah yang menarik perhatian

Setelah sampai di atas bukit dan di area Candi Abang, aku sempat berfikir. Kenapa warnanya hijau dan hanya ditumbuhi rerumputan dan ilalang, dan tidak ada warna merah yang melekat dengan icon Candi Abang? Terus Candi nya mana?

Terdapat sebuah bukit kecil yang sebagian sisinya terlihat terpal yang digunakan oleh para arkeolog untuk melakukan penelitian. Yak, dibawah terpal itu terdapat reruntuhan bata merah yang mungkin sedang dipugar. Hanya sebuah terpal sederhana yang menutupinya, seakan menjadi saksi bisu untuk menguak sejarah Candi Abang pada masa lampau.

Pemugaran Candi Abang
Pemugaran Candi Abang

Sebagian batu bata merah yang tersusun ini sudah hancur, dan ada juga sebagian yang masih tersusun rapi. Tumpukan batu bata merah ini menyerupai sebuah piramid segitiga yang menjulang ke atas. Belum diketahui secara pasti bangunan candi ini pada zamannya digunakan untuk apa. Tapi secara ilmu, bangunan yang terletak di atas biasanya adalah tempat yang suci.

Sekilas tentang Candi Abang

Candi ini terletak di atas bukit di pinggir jalan desa , sehingga dari atas sini kita bisa melihat pemandangan alam yang luar biasa. Untuk ukuran candi ini adalah sekitar 36 meter x 34 meter. Nyaris berbentuk kotak, karena panjang 4 buah sisi hampir sama.

Candi ini mempunyai bentuk yang sudah tidak sempurna, dan hanya reruntuhan dan tumpukan bata merah yang ditumbuhi rumput hijau dan bentuknya menyerupai sebuah piramid, terdapat sebuah sumur ditengahnya yang dinamakan “Sumur Bandung” oleh warga sekitar, tinggi candi ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi tinggi reruntuhan berkisar sekitar 6 meter.

Menurut para arkeolog, candi ini dibangun sekitar abad 9 Masehi pada zaman kerajaan Mataram Kuno. Pada saat pertama kali ditemukan, terdapat arca dan alas yoni sebagai lambang dewa Siwa, alas ini berbentuk segi delapan/hexagonal yang mempunyai ukuran sisi sekitar 15cm.

Ditemukannya Yoni juga mengungkap sebuah fakta, bahwa candi ini dibuat pada masa agama Hindu. Selain itu di sisi sebelah selatan terdapat peninggalan sebuah batu yang menyerupai seekor kodok, sehingga dinamakan Batu Kodok oleh warga setempat. Penemuan itu belum terungkap sejarahnya secara langsung, belum diketahui apa fungsi dari sebuah batu yang menyerupai kodok tersebut.

 Bukit Telettubies Candi Abang
Bukit Telettubies Candi Abang

Misteri yang belum terungkap

Terdapat mitos dari warga setempat yang muncul di Candi Abang. Candi ini dipercaya dijaga oleh seorang tokoh yang dituakan dan dihormati. Kyai Jagal oleh warga setempat menyebutnya. Kyai Jagal memiliki badan yang besar dan berambut panjang.

Menurut cerita, Kyai Jagal adalah seseorang yang selalu melindungi dari segala kerusakan. Penduduk setempat sering berlindung di puncak bukit tersebut pada zaman penjajahan. dan Kyai Jagal lah yang melindungi para penduduk tersebut. Selain itu dipercaya juga bahwa terdapat emas sebesar kerbau yang terdapat didalam tubuh Candi Abang ini.

Entah mitos itu sudah dibuktikan kebenarannya atau tidak. akan tetapi selama ini belum ada warga atau arkeolog yang membuktikannya. Memang secara fungsional, candi ini juga belum diketahui secara pasti. Hanya dari peninggalan artefak yang ada, kemudian para Arkeolog menyimpulkan sementara tentang fungsi dari bangunan candi ini.

Jika dipikir secara logika, bahwa susunan batu bata merah sebagian besar terdapat di peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Jawa Timur. Rasanya agak aneh dengan ditemukannya Candi dengan susunan batu bata merah di daerah Jawa Tengah, khususnya di Jogjakarta.

Sayangnya tidak terdapat relief yang bisa menceritakan fungsi dari bangunan candi ini. Aset negara ini layak untuk dilestarikan, karena dengan ditemukannya candi ini, tidak dipungkiri bahwa candi ini mungkin pernah menjadi pusat peradaban pada masanya.

Para Arkeolog terus berusaha mengungkap misteri yang ada di Candi Abang ini, Akan tetapi minimnya artefak dan lokasi yang sulit menjadikan Candi Abang ini sebagai misteri peningalan yang belum terungkap.

Reruntuhan Candi Abang
Reruntuhan Candi Abang

Route Jalan menuju Candi Abang

Route menuju Candi Abang sangat mudah, akses jalan bisa melewati melalui Jalan Yogya-Solo sekitar daerah Prambanan. Kemudian belok ke arah selatan setelah terminal prambanan. melalui Jalan Piyungan-Prambanan. Kemudian terdapat sebuah pertigaan dan ambil jlaur ke arah Berbah. Setelah itu terdapat papan penunjuk arah ke arah Candi Abang.

Alternatif lain yaitu melewati Jalan Yogya-Solo KM 14, setelah itu belok kanan melewati Jalan Berbah-Kalasan, kemudian bertemu perempatan menuju ke arah prambanan, belok ke kiri(ke arah timur) ambil Jalan Berbah-Prambanan. Setelah melewati Wisata Lava Bantal terdapat oaoan nama yang menunjukkan ke arah Candi Abang.

Untuk tarif parkirnya harga normal, dikenakan Rp.2000 untuk kendaraan roda 2, dan Rp.5000 untuk kendaraan roda 4. Selain itu terdapat warung untuk sekedar membeli makanan ringan untuk dibawa ke atas. Tapi harus diingat, membuang sampah harus pada tempatnya. Apalagi di situs cagar budaya, kita harus menjaga dan melestarikannya.

Keindahan Sunset dari atas bukit telettubies

Letak Candi Abang yang berada di atas bukit menjadi suatu daya tarik tersendiri ketika berada di sini. Rumput hijau yang menutupi reruntuhan ini menyerupai sebuah bukit yang sering ada dalam serial edukasi “Telettubies“. Hijaunya bukit sering dijadikan sebagai materi fotografi oleh para fotografer.

Dari atas bukit terlihat jelas pemandangan yang indah dari Yogyakarta, hamparan sawah yang luas seakan melengkapi keindahan yang Tuhan cipatakan ini. Jika senja telah tiba, pemandangan tambahan akan hadir untuk menemani sore kalian.

Indahnya terbenam matahari dijadikan sebuah objek foto yang paling banyak diminati. Jika cuaca cerah, pemandangan sunset dari atas bukit Candi Abang sangat indah. Diselingi kicauan burung, suasana akan menjadi lebih syahdu.

Sunset Candi Abang
Sunset Candi Abang

Tak terasa matahari mulai malu untuk menampakkan dirinya, aku harus segera bergegas pulang karena hari akan berganti menjadi gelap. Keindahan candi abang akan menjadi sebuah memori meskipun berkunjung hanya sebentar saja. Mengunjungi Candi peninggalan masa lampau yang hanya tertutup rumput dan ilalang menjadi sebuah pengalaman bagiku.

Jadi, kapan kalian bakal mengunjungi Candi Abang? Sebuah pilihan tujuan yang menarik bagi kalian yang mempunyai passion di wisata sejarah. Harapanku kedepannya, semoga kisah peradaban yang jaya pada masanya akan menjadi sebuah cerita bagi kita.

Bukan hanya keindahan yang didapat akan tetapi nilai dan moral tentang peradaban manusia yang sangat luar biasa. Mari kita lestarikan aset berharga Indonesia ini.Sampai jumpa lagi di artikel berikutnya, semoga bermanfaat dan bisa memberikan wawasan tentang sejarah.