Candi Abang: Sebuah Peninggalan di Atas Bukit

Photo of author

By Aldhi Fajar Maudhi

Bicara tentang wisata sejarah, aku memang sangat suka dengan wisata sejarah. Mengapa? menurutku salah satu wisata yang bisa memperluas ilmu adalah dengan mengagumi segala peninggalan peradaban dahulu kala.

Betapa pintarnya nenek moyang kita dalam merancang sebuah struktur bangunan hanya dengan bahan baku dan alat seadanya. Bukan hanya itu, sebagian besar artefak yang ditemukan dalam kondisi yang cukup utuh, meskipun ada beberapa bagian yang sudah rusak karena dimakan usia. Aku hanya bisa takjub jika meruntut itu semua secara logis.

Hal itu merupakan hal yang begitu luar biasa menurutku, terutama jika dibandingkan dengan zaman sekarang. Membangun sebuah rumah saja membutuhkan pertimbangan bahan dan biaya terperinci agar lebih maksimal. Dan hasilnya pun, kadang tidak sekuat dan seawet artefak peninggalan zaman dulu.

Peninggalan bangunan sejarah yang unik

Teringat saat 3 bulan lalu, seketika saja aku mengajak temanku untuk mengunjungi salah satu candi yang berada di daerah Berbah, Sleman, Yogyakarta. Entah kenapa setelah melihat info dari media sosial tentang Candi Abang, sebuah candi peninggalan zaman Hindu yang terletak diatas bukit menyerupai bukit telettubies yang hijau. Seketika aku ingin melihat secara langsung kondisi disana (mungkin ini yang dinamakan the power of media social, hehehe).

Memang sangat berbeda ketika aku melihat Candi ini di media sosial, untuk zaman sekarang kebanyakan tempat yang mulai viral adalah tempat yang sering dikunjungi para traveler, termasuk Candi Abang ini. Dan pada saat itu banyak foto di Instagram yang menyita perhatian karena Candi ini berada di atas bukit nan hijau.

Jam menunjukkan pukul 15:00, tanpa pikir panjang, aku dan temanku langsung menuju Candi Abang yang mungin berjarak sekitar 15-10 Km dari pusat kota Jogja.Candi Abang secara administratif terletak di Dusun Sentonorejo, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.

Aku sampai di Candi Abang sekitar jam 16:00, disana terdapat parkir yang dikelola oleh warga setempat, lebih tepatnya sih tempat penitipan motor. Karena akses menuju Candi ini dilalui dengan mendaki bukit kecil terlebih dahulu sekitar 15 menit. terdapat tangga untuk menaiki bukit yang terbuat dai batu gamping.

Tangga batu gamping
Tangga menuju bukit

Sesampainya di atas bukit, aku melihat ada hal unik yang dimiliki oleh candi ini, yaitu candi yang tersusun dari bahan bata merah, secara fakta bahwa candi yang berada di Jawa Tengah dan Jogja tersusun dari batuan andesit. Akan tetapi Candi ini tersusun dari batu bata merah, sehingga disebut “Abang” yang berarti merah dalam bahasa Jawa.

Candi ini terletak di atas bukit. Secara ilmu sejarah dan kepercayaan agama Hindu diketahui bahwa tempat tinggi itu adalah tempat yang suci dan dihuni oleh para Dewa. Sehingga mungkin pada zamannya, candi ini dipergunakan untuk tempat ibadah oleh peradaban masyarakat pada zaman itu.

Pemandangan yang Indah dari atas Candi Abang
Pemandangan yang Indah dari atas Candi Abang

Reruntuhan batu bata merah yang menarik perhatian

Setelah sampai di atas bukit dan di area Candi Abang, aku sempat berfikir. Kenapa warnanya hijau dan hanya ditumbuhi rerumputan dan ilalang, dan tidak ada warna merah yang melekat dengan icon Candi Abang? Terus Candi nya mana?

Terdapat sebuah bukit kecil yang sebagian sisinya terlihat terpal yang digunakan oleh para arkeolog untuk melakukan penelitian. Yak, dibawah terpal itu terdapat reruntuhan bata merah yang mungkin sedang dipugar. Hanya sebuah terpal sederhana yang menutupinya, seakan menjadi saksi bisu untuk menguak sejarah Candi Abang pada masa lampau.

Pemugaran Candi Abang
Pemugaran Candi Abang

Sebagian batu bata merah yang tersusun ini sudah hancur, dan ada juga sebagian yang masih tersusun rapi. Tumpukan batu bata merah ini menyerupai sebuah piramid segitiga yang menjulang ke atas. Belum diketahui secara pasti bangunan candi ini pada zamannya digunakan untuk apa. Tapi secara ilmu, bangunan yang terletak di atas biasanya adalah tempat yang suci.

Sekilas tentang Candi Abang

Candi ini terletak di atas bukit di pinggir jalan desa , sehingga dari atas sini kita bisa melihat pemandangan alam yang luar biasa. Untuk ukuran candi ini adalah sekitar 36 meter x 34 meter. Nyaris berbentuk kotak, karena panjang 4 buah sisi hampir sama.

Candi ini mempunyai bentuk yang sudah tidak sempurna, dan hanya reruntuhan dan tumpukan bata merah yang ditumbuhi rumput hijau dan bentuknya menyerupai sebuah piramid, terdapat sebuah sumur ditengahnya yang dinamakan “Sumur Bandung” oleh warga sekitar, tinggi candi ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi tinggi reruntuhan berkisar sekitar 6 meter.

Menurut para arkeolog, candi ini dibangun sekitar abad 9 Masehi pada zaman kerajaan Mataram Kuno. Pada saat pertama kali ditemukan, terdapat arca dan alas yoni sebagai lambang dewa Siwa, alas ini berbentuk segi delapan/hexagonal yang mempunyai ukuran sisi sekitar 15cm.

Ditemukannya Yoni juga mengungkap sebuah fakta, bahwa candi ini dibuat pada masa agama Hindu. Selain itu di sisi sebelah selatan terdapat peninggalan sebuah batu yang menyerupai seekor kodok, sehingga dinamakan Batu Kodok oleh warga setempat. Penemuan itu belum terungkap sejarahnya secara langsung, belum diketahui apa fungsi dari sebuah batu yang menyerupai kodok tersebut.

 Bukit Telettubies Candi Abang
Bukit Telettubies Candi Abang

Misteri yang belum terungkap

Terdapat mitos dari warga setempat yang muncul di Candi Abang. Candi ini dipercaya dijaga oleh seorang tokoh yang dituakan dan dihormati. Kyai Jagal oleh warga setempat menyebutnya. Kyai Jagal memiliki badan yang besar dan berambut panjang.

Menurut cerita, Kyai Jagal adalah seseorang yang selalu melindungi dari segala kerusakan. Penduduk setempat sering berlindung di puncak bukit tersebut pada zaman penjajahan. dan Kyai Jagal lah yang melindungi para penduduk tersebut. Selain itu dipercaya juga bahwa terdapat emas sebesar kerbau yang terdapat didalam tubuh Candi Abang ini.

Entah mitos itu sudah dibuktikan kebenarannya atau tidak. akan tetapi selama ini belum ada warga atau arkeolog yang membuktikannya. Memang secara fungsional, candi ini juga belum diketahui secara pasti. Hanya dari peninggalan artefak yang ada, kemudian para Arkeolog menyimpulkan sementara tentang fungsi dari bangunan candi ini.

Jika dipikir secara logika, bahwa susunan batu bata merah sebagian besar terdapat di peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Jawa Timur. Rasanya agak aneh dengan ditemukannya Candi dengan susunan batu bata merah di daerah Jawa Tengah, khususnya di Jogjakarta.

Sayangnya tidak terdapat relief yang bisa menceritakan fungsi dari bangunan candi ini. Aset negara ini layak untuk dilestarikan, karena dengan ditemukannya candi ini, tidak dipungkiri bahwa candi ini mungkin pernah menjadi pusat peradaban pada masanya.

Para Arkeolog terus berusaha mengungkap misteri yang ada di Candi Abang ini, Akan tetapi minimnya artefak dan lokasi yang sulit menjadikan Candi Abang ini sebagai misteri peningalan yang belum terungkap.

Reruntuhan Candi Abang
Reruntuhan Candi Abang

Route Jalan menuju Candi Abang

Route menuju Candi Abang sangat mudah, akses jalan bisa melewati melalui Jalan Yogya-Solo sekitar daerah Prambanan. Kemudian belok ke arah selatan setelah terminal prambanan. melalui Jalan Piyungan-Prambanan. Kemudian terdapat sebuah pertigaan dan ambil jlaur ke arah Berbah. Setelah itu terdapat papan penunjuk arah ke arah Candi Abang.

Alternatif lain yaitu melewati Jalan Yogya-Solo KM 14, setelah itu belok kanan melewati Jalan Berbah-Kalasan, kemudian bertemu perempatan menuju ke arah prambanan, belok ke kiri(ke arah timur) ambil Jalan Berbah-Prambanan. Setelah melewati Wisata Lava Bantal terdapat oaoan nama yang menunjukkan ke arah Candi Abang.

Untuk tarif parkirnya harga normal, dikenakan Rp.2000 untuk kendaraan roda 2, dan Rp.5000 untuk kendaraan roda 4. Selain itu terdapat warung untuk sekedar membeli makanan ringan untuk dibawa ke atas. Tapi harus diingat, membuang sampah harus pada tempatnya. Apalagi di situs cagar budaya, kita harus menjaga dan melestarikannya.

Keindahan Sunset dari atas bukit telettubies

Letak Candi Abang yang berada di atas bukit menjadi suatu daya tarik tersendiri ketika berada di sini. Rumput hijau yang menutupi reruntuhan ini menyerupai sebuah bukit yang sering ada dalam serial edukasi “Telettubies“. Hijaunya bukit sering dijadikan sebagai materi fotografi oleh para fotografer.

Dari atas bukit terlihat jelas pemandangan yang indah dari Yogyakarta, hamparan sawah yang luas seakan melengkapi keindahan yang Tuhan cipatakan ini. Jika senja telah tiba, pemandangan tambahan akan hadir untuk menemani sore kalian.

Indahnya terbenam matahari dijadikan sebuah objek foto yang paling banyak diminati. Jika cuaca cerah, pemandangan sunset dari atas bukit Candi Abang sangat indah. Diselingi kicauan burung, suasana akan menjadi lebih syahdu.

Sunset Candi Abang
Sunset Candi Abang

Tak terasa matahari mulai malu untuk menampakkan dirinya, aku harus segera bergegas pulang karena hari akan berganti menjadi gelap. Keindahan candi abang akan menjadi sebuah memori meskipun berkunjung hanya sebentar saja. Mengunjungi Candi peninggalan masa lampau yang hanya tertutup rumput dan ilalang menjadi sebuah pengalaman bagiku.

Jadi, kapan kalian bakal mengunjungi Candi Abang? Sebuah pilihan tujuan yang menarik bagi kalian yang mempunyai passion di wisata sejarah. Harapanku kedepannya, semoga kisah peradaban yang jaya pada masanya akan menjadi sebuah cerita bagi kita.

Bukan hanya keindahan yang didapat akan tetapi nilai dan moral tentang peradaban manusia yang sangat luar biasa. Mari kita lestarikan aset berharga Indonesia ini.Sampai jumpa lagi di artikel berikutnya, semoga bermanfaat dan bisa memberikan wawasan tentang sejarah.

Rate this post

67 pemikiran pada “Candi Abang: Sebuah Peninggalan di Atas Bukit”

    • masih banyak mas sebenarnyayang masih tetrimbun,
      tapi karena memang lebih ke pemukiman penduduk jadi blm bisa diindentifikasi.

    • iya mas banyak yg belum teridentifikasi, tapi masih d pemukiman jadi agak susah,
      semoga kedepanya bisa mengungkap candi yg masih tetrimbun ya pemerintah AMin

  1. Halo Mas, apa kabar?

    Saya baru tahu ada Candi Abang ini di Yogja. Saya baru 2 kali ke Yogja, nanti kalau ke Yogja lagi pasti candi ini saya kunjungi.
    Terima kasih atas informasinya Mas.

    Salam kenal dari saya di Sukbami.

    • Iya karena Candi Abang ini tidak berbentuk candi seperti pada umumnya, hanya tumpukan batu bata merah yg tertutup rumput
      Salam kneal juga ya mas, makasih sudah berkunjung 🙂

  2. Waktu itu sebelumnya aku juga sudah mengucap permisi dalam hati seperti di setiap lokasi wisata, mas.
    Entah mungkin saat itu ‘si penunggu’ memang sedang ingin nunjukin eksistensinya .

    O, iya di area candi Abang ini ada batu menyerupai bentuk seekor kodok dan dinamai dengan watu kodok .., aku jadi penasaran pengin lihat langsung.
    Nama batunya sama persis dengan batu di pantai di GunKid, namanya pantai Watu Kodok (pernah kuulas di blog lamaku yang sudah kunonaktifkan) …, ukuran batunya besar dan persis seekor kodok, mas.

    • Mngkin karwna mas Himawan punya indra keenam nih, jdnya pada waswas si pnunggunya haha.becanda mas.

      Ya betul mas, di gunugkidul ada pantai watukodok. Pantau yng enak buat camping hehehe.. wah pernah kesana mas?
      Tp kl watu kodok disini hanya menyerupai seekor kodok sih mas.entah itu pada jaman dahulu digunakan utk apa.
      .
      Tp lingga disini juga segi8 mas. Entah knp juga, pokoknya bnyak yg unik d Candi Abang ini

      • Lah, lingga kok bentuknya segi delapan ya ?. Benar-benar jadi misterius tersendiri …
        Beda dengan bahan material dan bentuk situs dengan candi Hindu lainnya ..

        Hahaha …
        Kok bisa ‘penunggu’ was-was sama aku .., apa dikiranya ghostbuster kali yaaa 😀
        Hadeeuww ..

        • nah itu yg belum aku tau mas, sejatinnya lingga dan yoni itu berbentuk kotak dan bulat ya,hehe
          Material pun dari bata merah.
          Aku pengen explore candi di Magelang mas, ada apa aja ya disana?
          .
          wkwkwkw iya soalnya ngikutin trus mas Himawan, siapa tau ngefans kaoi, dia baca blognya mas HImawan haha

          • Bhuahahaha ..
            Kok, … syereeeem punya fans dari golongan tak kasat mata …
            Hadoooh 😀

            Oh, di Magelang ada beberapa candi, mas.
            Beberapa diantaranya udah kudatengin dan kuulas.
            Kalau mas Aldhi suka dengan candi berpemandangan bukit apik, candi Selogriyo pasti mas suka banget …,
            Ayook kapan ke Magelang, mas

            • hahaha kali aja ams, mereka memang benr2 ngefans sama mas Himawan hahaha
              Candi selogriyo itu dmn mas?
              wah baru tau juga aku nih..
              Aku skrng udah jarang libur mas, jadi kehabisan materi candi..
              pengen ngulas candi malah keabisan materi foto hahahaha

  3. aku mengiranya candi abang itu cuma sebuah bukit. ternyata ada reruntuhan bangunan candi yang sedang dipugar. Sebetulnya juga masih bertanya-tanya kenapa candi memakai batu bata merah, bukan batu kali yang seperti digunakan di candi-candi lainnya. Terus fungsi dari candi abang itu sendiri sebagai apa juga masih bikin penasaran. Semoga pemugaran bisa berhasil dan menjawab berbagai pertanyaan orang-orang

    • Iya mas, semua sejarahnya belum terungkap, mungkin karena masih proses pemugaran.kalau sudah teridentifikasi sejarahnya baru bisa ketauan.
      Makasi mas kunjungnnya hehe

  4. Candi tapi engga ada candinya. Seru juga dibelain naik untuk membuktikan emang engga ada. Haha…
    Dari yg pernah aku baca sih…kelemahan artefak material bata ya gitu…cepat lapuk, akhirnya jadi tanah. Beda dng candi terbuat dari batu lebih awet, walopun yaa lama² lapuk juga.

    • Betul mbak, candi tp ga ada candinya haha.
      Tp sebagian besar yg terkubur itu masih bagus, cm yg sudah ke permukaan itu yg lapuk. Entah kenapa itu, mungkin karena alam juga.
      Makasi mbak kunjungannya:)

  5. Saat membaca pertama kali aku masih “meraba-raba” hahaha
    “Mana candinya ya?”

    Aku membayangkan bangunan fisik candi.

    Lalu aku buka browser dan ketik “candi abang”
    Lalu… ulang membaca lagi kali ini dengan lebih perlahan dan khusyuk
    Ternyata, candi sudah ditutup rumput dan hanya ada bentuk seperti piramid.
    Baru ngerti akutu, hahaha

    Baidewei, salam kenal ya Mas Aldhi
    Ini Mas Aldhi yang sering kasih job inbound dulu ya?

    • Haha emang ini unik dengan yg lain nbak.
      Candi dengan biasanya batuan skg hanya ketutup rerumputan.
      Makasih kunjungannya mbak, salam kenal y mbak
      Btw mungkin itu aldhi yg lain haha

  6. Lihat bentuk bukitnya kok aku jadi teringat pernah nyimak berita tentang penemuan sebuah bukit berukuran besar bentuknya menyerupai candi dan tertutup rumput. Diduga bukit itu isinya memang candi karena tertimbun tanah saking lamanya jadi terlihat seperti bukit.
    Sekarang masih dalam penelitian benar tidaknya itu sebuah candi.
    Kalau ngga salah lokasinya di Cianjur.

    • Situs gunung padang ya mas? Iya itu aku tau dr artikel.
      Nah itu menurutku dr zaman megalitikum. Karena ada ditemukannya menhir dan dolmen. Tp memang masih misteri itu br perkiraan para pakar.
      Eksplore sejarah d Indonesia gak ada habisnya ya mas hehe

    • Lokasinya yang kumaksud bukan situs Gunung Padang, mas.
      Eh nyebut situs Gunung Padang, aku gagal kesana waktu di Cianjur di rumah sodara jauh, mas. Sodaraku keukeuh ngga mau nganterin karena katanya tempatnya angker. Entah benar tidaknya aku ngga tau hal itu.

      Lokasi yang kumaksud berupa bukit menyerupai bentuk candi itu kalau ngga salah berada di daerah Puncak perbatasan Cianjur dan Bogor.

      • Oalah beda toh mas sama situs Gunung Padang.? Trnyata haha maaf salah paham.
        Kl g salah pernah dgr juga sih, tp itu blm sempet diteliti y mas?
        Gunung padang malah bikin aku penasaran lg sebenernya.zaman Megalitikum juga masih penuh misteri mas

  7. Sama sepertiku, mas .., selalu terselip kagum tiap liburan ke candi dan seringkali saat di lokasi terlintas gambaran kegiatan masa lalu yang terjadi di candi.
    Takjub dengan karya luar biasa nenek moyang kita dan heran teknologi apa yang mereka gunakan ?.

    Kenapa ya hampir di setiap lokasi wisata sejarah selalu dikaitkan dengan mitos ?.
    Bukannya aku ngga percaya hal2 begitu, tapi memang sepantasnya dimanapun kita harus jaga bicara dan sikap.

    • Kadang aku jg pengen travel time, tiba2 bisa nglihat pada masa pembangunannya. Apakah murni manusia atau tdk.
      Tp memang pembangunan candi itu rata2 tahunan sih mas. Bahkan ada yg sampai lintas generasi.
      Dan yg paling indah itu relief. Itu ukiran bisa bagus banget.
      Bangga aku pny nenek moyang pinter hehe

      • Hahaha …
        Ntar kalo bisa ‘ngelihat sesuatu’ di suatu lokasi wisata malah kabur ngaciiir, loooh … ngga jadi piknik asik acaranya 😀

        Betul, proses pembangunan suatu candi, terutama candi berukuran besar proses pembangunannya bisa sangat lama pengerjaannya.

          • Emang
            Ntar yang ada dikit-dikit kerasa sereeem …

            O, iya aku pernah punya pengalaman diikuti ‘sesuatu’ terus di lokasi satu air terjun di Kulon Progo, mas.
            Aku tau diikutin tapi ngga kugubris dan tetap konsentrasi melewati jembatan2 bambu dia atas aliran air terjun sambil berdoa dalam hati.
            Setelah sampai kembali ke area parkiran, kutanyakan ke penduduk sekaligus ketua pengelola wisata yang rumahnya di sebelah parkiran apakah ada ‘sesuatu’ di area air terjun.
            Si bapak langsung bilang ‘mas lihat ?. Lihat apa tadi ?’.
            Kuceritakan apa yang semua kulihat dan bapak itu bilang ‘ O, benar. Ya itu penunggu disitu’.
            Lalu bapak menceritakan semua hal disana.
            Aku cuma tertegun dijelasin begitu.

            • Itu beneran mas? Kok ngeri hahaa
              Itu d air terjun mana mas?
              Wujudnya kyk gmn mas? Emng d tmpt2 alam itu pasti ada penunggunya. Bukan hanya alam disetiap sudut pun alam mereka sebenarnya bersinggungan dengan alam kita.
              Asal tidak saling mengganggu, Insya Allah Aman hehe

    • Harus mas, Candi Abang memang belum terkuak sejarahnya. Tpi peninggalan indah banget..makasi kunjungannya mas

    • Iya mas, etos kerjanya harus dicontoh,
      Peradaban pada zamannya dgn fasilitas seadanya bisa membangun candi yg begitu indah.
      Makasi sudah berkunjung mas 🙂

  8. Udah beberapa kali mau gowes ke candi abang ini belum terlaksana juga. Karena hujan, teman atau akunya yang gak bisa juga terkadang..he. Next semoga bisa gowes kesini, pengen merasakan langsung suasana disana. Selain memang bisa mengunjunginya di tempat seperti candi abang ini kita bisa belajar. Terlebih jadi tentang mitosnya, sedikit jadi tahu meskipun belum kesana..he

    Salam kenal, Mas.

    • Iya kmren ada yg gowes jg sampe atas pas kesana, aq aja gumun mas haha
      Mitos memang percaya ga percaya sih mas, tp yg namanya cerita masyarakat pasti ada di setiap daerah
      Salam kenal kembali mas Andy
      Terimakasih sudah berkunjung:)

  9. Aku belum per.ah noh ke Candi Abang. Kayaknya butuh ketahanan fisik yang lumayan ya karena menuju ke sana pake naik bukit segala hehehe. Oooh ternyata batu bata merah tempo doeloe itu cuma ditutup terpal biru. Kalau ada yang ambil gimana tuh?

    • Tapi dikit kok mbak naeknya..
      Iya kmren itu lg ada pemugaran mbak, mngkin lg rutin maintenance..
      Candi abang ketutup semua soalnya sm rumput

  10. Wah bukitnya keren mas.. ijo gitu kayak walpaper di windows XP jaman old. Wkwkw..
    Dulu saya juga suka maen ke candi dan wisata wisata sejarah gitu.. ngga tau kenapa sekarang malah lebih tertarik sama yang berhubungan dengan air. kaya air terjun dan pantai… Hehehehe

    • Haha iya kayak windows xp mas.tp windows xp sdh punah hehe.
      Senengnya ciblon y skrg mas? Enak seger soalnya. Kl aku skg semuanya suka apalagi tmpt sejarah sama gunung. Kl libur aku pasti sempatin main kesana.
      Makasi udh berkunjung mas:)

  11. Wah sama ya, dalam bahasa daerah saya kata “abang” itu artinya juga merah. Padahal saya orang Sumatera hehehehe
    Destinasi yang menarik, tarifnya juga bersahabat di kantong ya.

    • Abang artinya merah jg ya disana hehe.
      Iya bersahabat, karena belum dikelola pemerintah, tp dikelola warga setempat.Bagus jg sih buat ningkatin ekonomi masyarakat setempat.
      Makasih udah berkunjung mas:)

    • Indonesia tidak akan pernah habis ceritanya tentang sejarah dan tempat wisata. Karena Indonesia kaya akan seni dan budaya.hehe
      Makasi kunjungannya mas

    • Itu struktur candinya memang dr batu bata merah, sepertinya ada campuran tanah liay karena tdk dtmukan semen, khas peningglan seprti majapahit.
      Sejarah memang sangat menakjubkan.
      Makasih sdh berkunjung mas hery.

        • Iya mas, ada jg pakai kaitan dan kuncian. Tp d struktur candi abang ini batanya hanya berbentuk kotak..
          Nah inilah gmn zaman itu nyusun batanya.

  12. Masih jadi misteri ya, knp ada candi bata merah ini di Jogja, yg lazimnya banyak ditemukan di Jawa Timur.
    Waaah, jadi pengin ke candi abang, uda lama bgt ga ke sana. Sekarang lg ijo2nya kayaknya ya?

    • Nah itu salah satu yg ga lazim. Karena d jawa tengah kbnyakan pakai batuan andesit.
      Skg musim hujan sepertinya sudah hijau mas
      Mas d jogja ya?salam kenal y mas

    • Terkadang mitos itu muncul mungkin dr pengalaman sesepuhnya tp Wallahualam sih mbak hehe. Sebagai org biasa aku hny menikmati indahnya alam saja..mitosnya g trlalu percaya.makaaih kunjungannya mbak intan:)

  13. Selalu ada misteri dari peninggalan sejarah, tak hanya artefak melainkan mitos di baliknya. Di sini juga ada misteri dan mitos mengenai asal mula terbentuknya Balubur Limbangan.
    Candi memang pada umumnya dibuat di dataran tinggi dengan alasan untuk tempat peribadatan, menghadap arah matahari terbit. Namun ada banyak misteri untuk apa dan bagaimana mulanya suatu candi berdiri di suatu wilkayah. Di sini juga sama.
    Hindu merupakana akar kebudayaan yang kuat pada zaman dahulu, berkaitan dengan akulturasi budaya. ika ada banyak reruntuhan candi yang belum terungkap fungsinya serta sejak kapan dan untuk apa, sisa peninggalan sejarah itu untuk mengingatkan kita bahwa dahulu kala kita punya kebudayaan adiluhung dari arsitektur.

    • Di jogja masih banyak mbak candi yg belum terindetifikasi oleh instansi terkait. Sayang aja sih, sebenarnya peninggalan itu kl dijaga sama pemerintah bakalan muncul fakta baru mungkin.
      Candi sebagian besar di dekat kali dan di atas bukit, mungkin sesuai dgn kepercayaannya yg terdahulu, ada nilai dan filosofinya jg.

      • Yang menguatirkan jika ada perusakan atas artefak peninggalan sejarah iru. Ya, seperti barang hilang diambili pihak yang tak bertanggung jawab. lalu, bagaimana jika generasi muda kehilangan akar sejarah?
        Bahkan ilmu untuk menyusun candi saja sampai sekarang para pakar tak tahu caranya.
        Adakah sejarah perbudakan dalam pembangunan candi? Semuanya misteri.

        • Kalo generasi kehilangan akar sejarah pastinya bakal ada pembelokkan sejarah, bener g mbak? hehe
          untuk sistem membangun candi aku juga penasaran sampai sekarang mbak, berapa tahun lamanya dan bagaimana prosesnya.
          perbudakan kemungkinan saja bisa terjadi tapi semuanya harus ada fakta yg tersirat seperti conntoh relief maupun prasasti.
          Jadi, sebagai generasi baru sebenernya kita harus melek sejarah hehehe

Komentar ditutup.