Sempat teringat saat 12 tahun lalu saat aku menapakkan kaki di kota Jogjakarta, dimana saat itu aku adalah hanya seorang polos yang baru lulus dari kehidupan bangku sekolah, yang ingin mencari kehidupan baru untuk merasakan betapa nyamannya Jogjakarta untuk menimba ilmu sebagai mahasiswa.

Tugu Jogja
Tugu Jogja Tahun 2008

Jogjakarta adalah sebuah kota dimana aku menemukan banyak lika-liku kehidupan yang sebenarnya, kehidupan mandiri dan jauh dari orang tua. Kebutuhan sehari-hari pun harus dikerjakan sendiri. Ini merupakan titik awal kehidupan seorang mahasiswa yang harus dihadapi beberapa tahun kedepan, saat hidup bersosial di tempat yang tak dapat dilupakan sampai sekarang. Ya, tempat terindah yang pernah kulalui selama 12 tahun, yaitu Jogjakarta Istimewa.

Di tahun 2006 menurutku, Jogja selalu menunjukkan pesona kenyamanan dan keistimewaan di setiap sudutnya. Suasana pagi hari yang identik dengan kesibukan para mahasiswa, kesibukan para penjual nasi gudeg, kesibukan bis kota yang lalu lalang, bahkan kesibukan warmindo (burjonan) dalam melayani para pelanggannya. Sungguh aku selalu terbawa suasana saat teringat kondisi seperti itu.

Banyak sekali kenangan-kenangan Jogja yang tak dapat dijumpai sekarang dibandingkan keadaan kota Jogja pada saat itu. Mungkin tak cukup tulisan ini mewakilkan perasaan kangen itu terhadap keadaan dan situasi Jogja saat itu. Hanya memori yang sekelebat datang dipikiranku, yang bisa mengobati kerinduan akan keadaan Jogja di tahun 2006.

Jogja, darimu ku menemukan rindu dan kenangan

12 tahun terakhir yang kurasakan, Jogja semakin berkembang di setiap sektor. Bisa dikatan kemajuan teknologi dan SDM juga mempengaruhi akan proses perubahan itu semua. Dengan dibalut budaya kental yang masih tetap melekat di kehidupan Jogja. Kehidupan masyarakat yang aman, nyaman, dan tenteram masih terlihat sampai sekarang. Lingkungan masyarakat yang selalu mengutamakan nilai kesopanan dan etika kehidupan masih ada sampai sekarang. Istimewa!

Bis kota yang nge-time mencari penumpang di area kampus UGM, hiruk pikuk mahasiswa yang mengantri rental komputer di sepanjang jalan kaliurang, tempat nongkrong yang belum se-hits sekarang, akan tetapi bisa begitu seru bila nongkrong bersama kawan sampai fajar tiba. Semua itu selalu terlintas di pikiranku bila mengingat kembali tentang Jogja 12 tahun lalu. hanya satu kata yang bisa mewakili itu semua. Kangen!

Bagaimana bila berbicara lebih spesifik tentang Jogja? Beberapa sudut kota Jogja memang mengalami perubahan, baik secara fisik maupun secara non fisik. Sempat aku mengingat sebagian kecil tentang segala hal yang dulu ada di Jogja tapi sekarang sudah mulai jarang, bahkan tidak ada sama sekali. Sepertinya aku akan merangkum beberapa point yang mungkin bisa mengobati rinduku kepada Jogja yang dulu.

Bis Kota Jogjakarta yang Legendaris

Di jaman keemasannya, bis kota di Jogja adalah salah satu sarana transportasi yang paling diminati. Berbagai pilihan trayek dari jalur 1 sampai jalur 10 selalu beroperasi setiap harinya dengan penumpang yang penuh. Kebanyakan adalah mahasiswa dan pelajar sekolah yang menggunakan jasa transportasi bis kota. Aku termasuk salah satu yang beruntung pernah menikmati sarana transportasi ini.

Bis Kota Jogja pada masanya
Bis Kota Jogja pada masanya. Sumber : flickr.com

Akan tetapi di pertengahan tahun 2017, bis kota ini mulai jarang terlihat di jalanan kota Jogja. Peremajaan menuju trans jogja menjadi salah satu penyebab utamanya. Mungkin para mantan supir bus kota Jogja banyak direkrut pemerintah untuk mengoperasikan Bis Trans Jogja. Memang lebih baik dan tertata, dan kisah bis kota Jogja 12 tahun lalu akan menjadi sebuah kenangan pada masa yang akan datang.

Bioskop Mataram, Bioskop yang Murah Meriah

Ada yang pernah ngalamin nonton di bioskop mataram? Yak, pada jamannya bioskop ini diincar oleh para pelajar dan mahasiswa kebanyakan. Dulu harga tiket di bioskop ini sekitar Rp.12.000 untuk hari minggu/hari libur, dan Rp.10.000 untuk hari biasa. Murah banget kan? Biskop mataram yang leendaris ini sempat tersebar isu bahwa banyak penularan virus HIV melalui jarum suntik yang dianam di kursi bioskop. Memang belum terbukti kebenarannya. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri, bioskop ini jaya pada masanya. Kangen sama Jogja ga?

Bioskop mataram jogja
Bioskop Mataram. Sumber: rumahdijual.com

Di tahun 2019 ini, banyak bermunculan bioskop yang nyaman dan baru pastinya. Seperti XXI, Cinema21, CGV, dll. Kebanyakan bioskop ini berada di Mall. Memang perubahan yang sangat drastis selama 12 tahun ini. Memang jaman sekarang lebih enak, akan tetapi cerita dan memori pada masa lalu tetap tersimpan di kenangan hidup ini.

Sunday Morning UGM

A: ” Ayolah sesuk nyanmor bro”. B: “halah koyok tangi wae, isuk-isuk tapi ya?”. A: “yoh aku tak tangi isuk, ampiri yo” B:”ah telek”. ( artinya translate ya sama org Jogja,hehehe). Sunday Morning UGM biasa orang Jogja menyebutnya Sunmor. Yaitu sebuah pasar kaget yang hanya ada pada hari minggu pagi dari jam 5 pagi sampai 12 siang. Letak Sunmor pada saat itu adalah di sepanjang jalan kampus UGM, dari mulai jalan olahraga, sampai depan Masjid Kampus UGM. Biasanya di GSP ( Grha Sabha Pramana) banyak mahasiswi cantik yang sedang lari pagi. Sungguh pemandangan yang sangat jarang. Tujuan ke Sunmor biasanya adalah ajang cuci mata dan tebar pesona.hahaha.

Sunmor UGM
Sunmor UGM. Sumber: o2zone.wordpress.com

Nah, tapi setelah beberapa tahun terkahir ini, kampus UGM memberikan kebijakan untuk merelokasi Sunmor ke Jl Lembah UGM. Memang lebih sempit. Akan tetapi meriahnya tidak kalah pada saat letak sunmor berada di utara bunderan Fakultas Hukum. Berubah? ya memang berubah, akan tetapi hanya berubah tempat tanpa mengurangi kesan seru dan cuci mata di Sunmor. Sepertinya aku sedikit bernostalgia saat mengingat para mahasiswa mengamen di sunmor hanya untuk cari uang tambahan jajan bulanan.

Ramainya Angkringan Kali Code

Masih ingatkah dengan Angkringan Kali Code? sebuah deretan angkringan yang terletak di sepanjang Jl Prau, Kotabaru, Jogja. Ramainya pada saat itu mengalahkan ramainya angkringan dimanapun. Apalagi jika pada hari minggu. Seperti biasa para mahasiswa dan pelajar memenuhi deretan bantaran kali code ini sambi menikmati syahdunya alunan lagu dari para musisi jalanan kota Jogja. Biasanya tempat ini ramai sampai pagi hari. Keadaan yang bikin kangen Jogja saat tahun 2006-2010. Angkringan Kali Code sempat menjadi icon pada masanya. Banyak juga cafe yang jaya pada masanya, seperti goeboex cafe, Papilon, Lincak Cafe, kedai 24 jam, Embassy, dll.

Angkringan Kali Code
Angkringan Kali Code. Sumber: traveling.maslatip.com

Sekarang? Angkringan kali code tidak seramai dulu, semenjak kali code rawan longsor akibat lahar dingin merapi. Terdapat sebagian pedagang yang bertahan di lokasi ini. Ya mungkin sebagai pelepas rindu, sesekali aku mengunjungi para pedagang jagung bakar sebentar saja menyantapnya sambil mengingat ramainya tempat ini pada masa lalu. tempat ini menjadi Saksi karena pernah menjadi sebuah sejarah, bahwa aku pernah nembak mantan pacar (sekarang jadi istriku) di tempat ini. Dan akhirnya diterima. hehehe.

Pasar Maling Jl Mangkubumi (Sarling)

Ini meruapkan salah satu tempat yang legendaris juga, pasalnya disini tempatnya cari barang bekas yang layak pakai tapi dengan harga miring. Orang biasa menyebutnya Pasar Maling/ Sarling, karena mereka beranggapan bahwa yang dijual disini adalah barang hasil maling. Memang agak sedikit negatif sih kesannya, hehe. Tapi dulu di sepanjang jalan Mangkubumi ini sangat ramai di setiap malam. Berbagai macam barang bekas ada di tempat ini.

Pasar Maling Jogja. Sumber: wartakonstruksi.com

Akan tetapi lagi dan lagi pasar ini harus direlokasi ke tempat yang lebih layak oleh pemerintah, yaitu pindah ke di Jl HOS Cokroaminoto Pekuncen. Di tempat yang baru ini lebih tertata rapi. Ramainya juga sama seperti saat sebelum direlokasi. Image Sarling yang dulu sangat menempel di jalan Mangkubumi perlahan pudar. Tempat yang sekarang lebih bagus dan lebih layak. Seketika aku teringat masa-masa mencari knalpot motor murah di Sarling jl Mangkubumi, sungguh memori yang tak terlupakan.

Cafe dan Lounge yang Hits pada Masanya

Dunia hiburan malam pun selalu menghiasi kota Jogja. Kehidupan malam ini memang banyak efek negatif, akan tetapi golongan menengah keatas dan eksekutif muda memilih jalan ini untuk sekedar menghabiskan masa muda sampai dini hari. Cafe hits pada masanya seperti TJ’s, Papilon, Jogja Jogja, Bunker Cafe, Liquid, Hugo’s, Embassy, hingga BOSHE VVIP Club. Tempat ini pasti menjadi tujuan para pecinta dunia malam.

Bunker Cafe pada Masanya. Sumber: yogyakarta.panduanwisata.id

Pada masanya, Jl Magelang adalah menjadi tujuan utama untuk sekedar menebar pesona kepada lawan jenisnya. Untuk yang tetap bertahan sampai sekarang mungkin hanya segenlintir. Tapi banyak juga bermunculan Loung dan club malam yang baru di 2019 ini. Sisi gelap Jogja senantiasa melengkapi kenangan masa lalu yang pernah muncul di benak kalian pastinya ya.

Warnet, Tempatnya Nongkrong Anak Muda

Warnet. satu tempat yang sepertinya sudah jarang ada di tahun 2019 ini. Pada jamannya sebelum muncul teknologi smartphone dan internet pun masih dial-up. Warnet paling banyak dicari oleh mahasiswa dan pelajar kota Jogja. Bahakan para pebisnis pun selalu mencari alternatif ini untuk melihat perkembangan ekonomi.

Sebut saja bimonet, jagonet, empirenet, genesisnet, vidinet, dan masih banyak lagi nama nama pesohor dan cikal bakal warnet di Jogja. Mirisnya jaman dahulu warnet biasa dijadikan sebagai tempat pacaran anak muda. Dan saat itu masih maraknya para part timer mencari kerja sebagai operator warnet hanya untuk ber-internet secara gratis, haha. ide bagus pada saat itu.

Empire Net. Sumber : yogyakarta.panduanwisata.id

Entah mengapa seiring berkembangnya teknologi, para pengusaha warnet banyak yang gulung tikar. Mungkin mereka membanting stir ke arah bisnis yang lebih mengikuti jaman. Di tahun 2019 ini memang masih ada warnet yang menyediakan layanan internet kencang, akan tetapi untuk jaman sekarang dibalut lebih modern seperti wifi area dan internet cafe. Jadi, siapa yang jaman dulu pernah YM-an, mirc, sama friendster-an di warnet?hehehe.

Suasana Malioboro

Malioboro dari jaman dulu sampai sekarang memang tidak banyak perubahan. Ramainya para pedagang kaki lima disaat hari libur, hingga anak-anak muda yang mempunyai berbagai hobi seperti fotografi, jalan-jalan, dan lainnya. Saat 12 tahun kemarin, Malioboro memang selalu ramai. Ada sedikit perubahan setelah ada proyek pendestrian malioboro oleh pemerintah. Ya memang proyek ini membuat jalan Malioboro menjadi lebih tampil cantik dibanding dahulu kala.

Malioboro Sebelum Pendestrian. Sumber: Dok Pribadi

Malioboro menjadi icon nya kota Jogja hingga sekarang, sempat teringat saat parkiran motor bisa bebas leluasa parkir di pinggiran jalan Malioboro. Saat itu banyak terdapat petugas parkir sesuai daerah kekuasaannya masing-masing. Tetapi pemerintah melakukan relokasi parkir ke tempat yang lebih layak ke Parkiran AbuBakar Ali. Tujuannya agar di Malioboro tidak begitu banyak lahan parkir yang bisa membuat macet, selain itu agar para pejalan kaki leluasa berjalan-jalan di Malioboro. Meskipun sekarang sudah tidak boleh parkir di Malioboro, akan tetapi pesona Malioboro masih terasa sama dengan saat dulu kala.

Kehidupan Jogja 2019, perubahan yang lebih baik.

Sebenarnya masih banyak hal yang ada pada kota Jogja zaman aku masih kuliah dan tidak ada pada tahun 2019 ini. Akan tetapi sepertinya terlalu panjang untuk diceritakan. Mungkin akan kubahas lagi di kesempatan lain hehe.

Jogja tahun 2019 ini sudah menjadi buruan para traveler dari berbagai penjuru nusantara, bahkan dunia. Jogja yang sekarang sudah banyak hotel dan penginapan baru yang bermunculan. Tidak seperti 12 tahun yang lalu, hotel dan penginapan agak jarang. Karena wisatawan dengan tujuan Jogja terus meningkat dari tahun ke tahun. Maka wajar hotel dan penginapan bermunculan dan menyediakan berbagai fasilitas yang memadai.

Aku berharap Jogja akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidup. Dengan berkembangnya Jogja maka secara tidak langsung akan meningkatkan perekonomian masyarakat Jogja. Ya, aku berharap itu semua selalu konsisten untuk beberapa tahun kedepan.

Terlalu banyak kenangan di Kota Jogja tercinta ini, mulai dari aku kuliah, kecanduan game online, dropout kuliah, kerja jaga warnet, kuliah lagi biaya sendiri, pacaran, kerja buat biaya kuliah, sampai nikah.

Timeline-nya mungkin seperti itu. Indah untuk diingat, tertawa saat mengingat, dan terlalu semangat untuk diceritakan kembali. Jogjaku yang sekarang semoga tetap lebih baik dan tetap menjadi istimewa. Karena disinilah aku menemukan kerasnya kehidupan, indahnya kisah cinta, dan aku menjadi saksi hidup berkembangnya Jogja yang sekarang mulai ramai dikunjungi para Wisatawan.

Silakan bagi para alumnus Jogja untuk bernostalgia melalui tulisan ini, Sebuah tulisan yang tiba-tiba tergugah untuk membahas Jogja dalam 12 tahun terakhir ini. Jika ada tambahan tentang Jogja pada masa lalu, aku tunggu di kolom komentar ya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya πŸ™‚